Tuesday, 18 April 2017

PENDIKAN KRITIS



PPC Iklan Blogger IndonesiaPENDIDIKAN KRITIS

A.    Proses Pendidikan kritis sebagai proses pembebasan potensi kemanusiaan manusia
Pendidikan kritis adalah teori  pendidikan yang meyakini  bahwa terdapat  muatan politik dalam semua aktifitas pendidikan. Teori ini dalam dalam pembahasan filsafat  pendidikan disebut juga sebagai aliran kiri, karena berlawanan dengan aliran pendidikan liberal dan konservatif. Teori pendidikan kritis ini tidak merepresentasikan satu gagasan yang tunggal. Tetapi para pendukung aliran ini disatukan dalam satu tujuan yang sama, yaitu memberdayakkan kaum tertindas dan mentransformasi ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat melalui media pendidikan (Peter McLaren, 1998). Pendidikan yang ditawarkan oleh aliran pendidikan kritis ini adalah pendidikan yang menekankan  bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi, dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memahami realitas hidup dan mengubahnya, jadi tidak sekedar mengetahui pengetahuan saja. Ada proses pengolahan dan reproduksi gagasan di dalamnya. pendidikan kritis mengambil unsur-unsur konstruktif dari mazhab Frankfurt dan posmodernisme yang kemudian dicangkokkan dalam upaya mengontruksi satu bentuk pendidikan yang membebaskan. Artinya, pendidikan harus bisa menjadi medium bagi kritik sosial, tidak sebatas pengkodean peserta didik.
Pendidikan kritis menekankan bahwa jalannya proses pendidikan tidak semata – mata hanya sebagai proses pengkodean/kodeisasi atas peserta didik, tetapi kode – kode yang didapat hanyalah sebagai modal untuk membantu proses berpikir dari peserta didik itu sendiri. Salah satu tema yang menjadi pembasan dalam pendidikan kritis adalah tentang kapitalisme karena pengaruhnya yang besar dalam kehidupan masyarakat modern. Apa yang dihasilkan dari rahim kapitalisme adalah kebudayaan positif dan rasionalitas teknokratik/instrumental. Ilmu yang disampaikan kepada peserta didik dalam budaya ini adalah ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi dengan dunia masyarakat industri, yaitu kehidupan masyarakat sekarang. Proses pembelajaran akhirnya menjadi sebuah penganugerahan barang jadi, pengetahuan dianggap sebagai barang jadi. Padahal dalam pendidikan kritis pengetahuan adalah sesuatu nilai yang didapat sebagai hasil penemuan dialogis bersama, antara peserta didik dan pengajar. Sehingga dalam pembelajaran terdapat refleksi dari dalam diri peserta didik. Posisi antara pengajar dan peserta didik dalam metode pendidikan seperti ini adalah relasi antara subjek dan subjek. Karena kedua belah pihak adalah dua pihak yang saling memberikan reaksi sehingga menghasilkan sintesa pengetahuan. Jika pendidikan adalah sebuah pemberian pengetahuan yang sudah jadi, di mana peserta didik tidak tahu menahu asal muasal dari pengetahuan tersebut, maka yang terjadi adalah pengobjekkan atas peserta didik, karena pengetahuan adalah barang jadi, pengajar sebagai subjek yang memberikan dan peserta didik adalah objek yang ditempeli dan dimasuki pengetahuan yang sudah jadi tersebut.
Proses pendidikan kritis ini lebih mengedepankan “bagiamana memikirkan suatu hal (how to think) ketimbang apa yang dipikirkan ( what to think ). Sehingga dalam pendidikan kritis yang diutamakan adalah bagaimana proses dari pendidikan bisa dipahami dan diikuti oleh peserta didik dengan baik. Dan di sini metodologi dalam proses pembelajaran tersebut menjadi lebih penting, di dalam proses ini termuat bagaimana jalan berpikir, berdiskusi, berdebat, dan mengapresiasi pemikiran orang lain menjadi hal yang lebih penting. Dan dialog menjadi jalan pembuka penerapan pendidikan kritis ini.

Ø  Pendidikan kritis menurut para ahli
Paulo Friere Pendidikan kritis ( critical pedagogy) adalah suatu bentuk pedagogi yang harus diolah bersama, bukan untuk the oppressed  dalam perjuangan tanpa henti untuk merebut kembali kemanusiaan. (Suharto,2012)
Nuryanto ( dalam Kartono) Pendidikan kritis merupakan mazhab pendidikan yang meyakini terdapatnya muatan politik dalam semua aktivitas pendidikan
Proses dialog akan menghasilkan apa yang disebut Freire dengan conscientization, yaitu proses berkembangnya kesadaran. Conscientization  adalah proses dimana mansia mempunyai critical awareness sehingga mampu melihat secara kritis kontradiksi-kontradiksi sosial yang ada disekelilingnya dan mampu mengubahnya. Pendidikan kritis menganggap bahwa tujuan pendidikan itu sebenarnya adalah untuk meningkatkan kesadaran peserta didik, dari kesadaran magis dan naïf, menuju kesadaran kritis. Untuk menuju pendidikan kritis tersebut ada tiga tahapan yang harus dilewati, yaitu[ :
Ø  Naming, tahap menanyakan sesuatu (what is the problem ?), tahap ini bertujuan untuk membentuk kepekaan terhadapa realitas sosial yang terjadi disekitar.
Ø  Reflecting, tahap menanyakan  pertanyaan mendasar untuk mencari persoalan utama (Why is it happening), tahap ini dimaksudkan agar peserta didik dibiasakan untuk berpikir kritis dan reflektif.
Ø  Acting, tahap pencarian solusi atau alternatif pemecahan masalah (what can be done to change the situation) . Tahap ini adalah tahap yang bersifat praksis.
            Dari tahap – tahap tersebut terlihat bahwa pendidikan kritis bukan sebuah wacana yang sebatas teori belaka, namun semua teori praksis yang harus diimplementasikan. Karena kebebasan tidak bisa hany diciptakan dari wacana kebebasan, namun harus ada aksi pembebasan.  Yang  ingin dicapai dalam pendidikan kritis adalah bagaimana kesadaran manusia itu bisa  disadarkan dari kesadaran semu. Kesadaran aktif yang kritis dan reflektif harus segera dibangkitkan. Kesadaran kritis yang akan menyingkap apa yang sebenarnya yang terjadi dalam realita. Dominasi pengajar, kekakuan, dan macetnya suatu dialog dalam proses pendidikan dan pengajaran, harus digantikan percakapan kritis, dialog yang hidup dan kedewasaan peserta didik meraih jati dirinya. Pendidikan kritis ini dibentuk untuk bisa membebaskan semua potensi yang ada dalam diri manusia, tidak ada lagi pengekangan dengan pembudayaan budaya pendidikan yang bersifat injeksi ilmu semata. Selain itu, mitos – mitos akademis yang dipercayai masyarakat sebenarnya adalah alat untuk menumpulkan kekritisan masyarakat serta peserta didik dalam.
Mitos akademis  secara tidak langsung menciptakan otoritas yang secara tidak langsung telah mengatur  paradigma berpikir masyarakat. Mitos akademis yang telah men-Tuhan-kan pendidikan sebagai penentu nasib sehingga harus diikuti dan tidak boleh digugat harus segera ditepis. Dalam proses tersebut maka yang harus dibuka adalah adanya peluang berdialog, dan diberikan hak bicara. Dengan adanya hak bicara maka itu akan memunculkan sebuah aksi kultural, yaitu aksi untuk membentuk sebuah pemahaman dan penafsiran serta reproduksi makna yang baru. Dengan adanya reproduksi pemakanaan maka akan memunculkan situasi transformatif. Situasi yang selalu bergerak dan menghasilakn perubahan yang diharapkan sebagai progresitas bagi setiap manusia, bukan hanya untuk golongan tertentu.
Pendidikan telah mengalami pereduksian pemaknaan. Pendidikan (baca ; persekolahan) telah menjadi sebuah ladang emas bagi individu , baik dari sisi penyelenggara maupun sebagai peserta didik dan keluarganya. Terjadi pereduksian pemaknaan yang sangat memprihatinkan di sini, pendidikan dianggap sebagai jalan yang untuk menuju masa depan yang diiming – imingi dengan kejayaan dalam artian kelimpahan dalam bentuk materi. Pendidikan dianggap sebagai sebagai salah satu jalan pembebasan dari keterbelakangan kemampuan secara finansial atau pun sebagai sarana untuk mempertahankan kekuatan finansial keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa, materi finansial memang hal yang penting terutama untuk mengukur kesejahteraan manusia, namun pemahaman yang melulu dan berorientasi hanya pada titik fokus itu telah men-dehumanisasi manusia. Dan dehumanisasi itu telah mengakar sebagai mitos yang dipercaya sebagian besar kalangan akademisi sebagai tujuan yang harus dicapai.
Pertanyaan seputar, “kuliah jurusan apa ?”, yang kemudian dilanjutkan dengan,“ setelah lulus prospek kerjanya di mana ? “, adalah pertanyaan yang menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat kita dalam menilai pendidikan. Paradigma masyarakat telah terbelenggu salah satu mitos akademis ini semakin luas merebak dan diimani. Sehingga pendidikan yang telah terinstitusi tersebut dengan mudah bisa memperngaruhi orang – orang untuk mengikuti apa yang dikendaki oleh sistem institusi pendidikan tersebut. Dengan mengarahkan paradigma berpikir masyarakat maka akan semakin tipis kemungkinan bagi peserta didik tersebut untuk mengkritisi sistem pendidikan di mana dia berada, karena ada suatu keharusan untuk mengikuti sistem tersebut yang dia sendiri tidak sadar bahwa sistem tersebut telah mempengaruhi semua cara berpikirnya. Peserta didik telah dirobotisasi dengan tuntutan – tuntutan sistem.
Pendidikan yang semestinya untuk meningkatkan pemahaman manusia dan mengasah kepekaannya berubah menjadi pabrik pencipta manusia mekanistis, manusia yang dianggap memiliki rasio dan akal tidak lebih menjadi manusia yang menerima dan menerapkan saja apa nilai – nilai yang dianggap benar tanpa bisa memperhatikan nilai itu, karena dari pendidikan yang dijalani hanya sebagai sebuah jalan yang harus dilalui sebagai prosedur yang wajar dan benar, niatan untuk mengkritisi apakah nilai – nilai dan proses pendidikan yang dijalani apakah pendidikan yang mendidik atau malah merobotisasi telah berkurang atau malah telah menghilang dari sebagian besar peserta didik. Pendidik menjadi Tuhan di dalam dunia persekolahan, dia yang menentukan apa yang baik dan buruk. Dan peserta didik sebagai mesin penerima dan berpikir sebatas kerangka yang telah diberikan, lantas di mana letak pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia, manusia yang menjadi mesin penerima, dan hal ini dimungkinkan karena telah tidak disadari bahwa tujuan pendidikan telah bergeser, yaitu tujuan pragmatis secara finansial. Humanisasi melalui pendidikan telah ditumpulkan dengan tujuan diluar untuk humanisasi manusia itu sendiri. Intitusi pendidikan telah menjadi ruang pencuci otak.
Pendidikan yang telah diagungkan sebagai jalan yang menentukan kesuksesan seseorang kemudian dibaca oleh kaum liberal sebagai sebuah komoditas yang menggiurkan. Mitos akademis mengenai pendidikan tersebut membuat masyarakat terlena dan bersedia melakukan apa saja demi mendapat pendidikan yang telah menjadi barang komoditas. Pendidikan menjadi sebuah sistem yang tak terbantahkan kebijakannya, karena pendidikan dianggap sebagai tuhan yang baru, yaitu sebagai gudang kebenaran dan penentu nasib manusia, pendidikan menjadi memiliki otoritas untuk mengatur pola berpikir masyarakat, dan pola berpikir yang diatur tersebut diarahkan agar peserta didik hanya mengikuti sistem saja sehingga tidak mengkritisi apa yang diterimanya dari proses pendidikan tersebut. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan mempertahankan kelanggengan sistem pendidikan yang ada tersebut. Peserta didik hanya diprogram sedemikian rupa sehingga bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada, bukan untuk merubah realitas yang ada.
Contoh masalah riil pendidikan kritis

Tempat
Masalah

Sekolah
-          Kurangnya pemahamnya guru terhadap tujuan pendidikan kritis
-          Cara mengajar guru yang mengarahkan siswa untuk menghafal
-          Metode pengajaran guru yang tidak sesuai
-          Masuknya teknologi yang banyak melahirkan pemikiran yang praktis terhadap peserta didik
-          Tidak meratanya pelaksanaan kurikulum
-          Dikriminasi pendidikan yang terjadi terhadap anak miskin


Pemerintah
-          Dikriminasi terhadap sekolah perdesaan
-          Kurikulum yang tidak sama antara di desa dan di kota
-          Kurangnya pemerataan pendidikan antara pendidikan yang berada di kota dan yang ada di desa
-          Pengaplikasian dana bantuan sekolah yang tidak merata
-          Buku panduan belajar yang selalu berubah-ubah

Guru
-          Guru kurang menguasai teknologi
-          Kurangnya penguasaan materi pembelajaran
-          Guru tidak paham metode mengajar
-          Guru kurang memperhatikan kemampuan siswa
-          Cara belajar yang monoton
-          Penbelajaran yang mengarahkan siswa untuk menghafal

Kurikulum
-          Lemahnya kurikulum
-          Bergantinya kurikulum
-          Tidak meratanya kurikulum
-          Terlalu banyaknya kurikulum
-          Diskriminasi kurikulum terhadap sekolah perdesaan
-          Rancangan kurikulum yang tidak maksimal
Dengan melihat contoh diatas dengan meningkatnya penggunaan teknologi pada proses belajar mengajar ternyata juga memberikan dampak negative, karena memang masih banyak guru gaptek atau guru yang tidak paham dengan cara penggunaannya, sehingga berimbas kepada kemampuan siswa dan cara bepikir siswa, tidak hanya itu, perubahan kurikulum seiring dengan perubahan roda pemerintahan menjadikan alasan mengapa kualifikasi pendidikan di Indonesia sangat rendah dan hadirnya kurikulum 2013 ternyata menambah masalah baru bagi guru-guru yang tidak mampu mengoperasikan teknologi, kenapa tidak karena tuntutan kurikulum yang mengharuskan dalam menyapaikan pelajaran harus menggunakan LCD atau tekonologi lainya, dan perubahan kurikulum ini juga telah mendiskriminasi sekolah-sekolah perdesaan atau sekolah-sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dalam  melakasanakan kurikulum 2013.
Ø  Pendidikan Demokrasi
Pendidikan demokrasi yang merupakan tuntutan dari terbentuknya masyarakat madani Indonesia mengandung bahwa: Manusia memerlukan kebebasan politik, kebebasan intelektual, kesempatan untuk bersaing di dalam perwujudan diri sendiri, dan pendidikan yang mengakui hak untuk berbeda percaya kepada kemampuan manusia untuk membina masyarakat.

Adapun tujuan pendidikan demokrasi adalah untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan berpikir demokratis, selain itu agar warga negara mengerti, menghargai kesempatan dan tanggung jawab sebagai warga negara yang demokratis. Demikian, pendidikan demokrasi demokrasi bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan dan praktek demokrasi, tetapi juga menghasilkan masyarakat dan warga negara yang berpendirian teguh,  mandiri, memiliki sikap selalu ingin tahu, dan berpandangan jauh kedepan.

Pendidikan demokrasi mutlak diperlukan, sebagai sosialisasi nilai-nilai demokrasi supaya bisa diterima dijalankan oleh rakyat (warga dan pemerintahan). Tujuannya mempersiapkan Warga Negara pemerintahan berperilaku-bertindak demokratis, melaluui aktivitas menanamkan pada generasi muda akan pengetahuan, kesadaran dan nilai-nilai demokrasi.






Contoh riil Masalah Pendidikan Demokrasi

Tempat
Masalah

Sekolah
-          Kurangnya Penanaman cara berpikir yang kritis dan demokratis
-          Kurangnya penanaman ahlak di sekolah
-          Tidak adanya sikap tanggung jawab guru
-          Kurangnya perhatian kepala sekolah terhadap tujuan pendidikan demokrasi
-          Tidak adanya pelajaran ahlak di sekolah SD/SMP
-          Kualitas guru yang sangat rendah


Pemerintah
-          Kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan
-          Bercampunya politik dengan pendidikan
-          Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap tujuan pendidikan demokrasi
-          Kurangnya pemahaman pemerintah terhadap pendidikan demokrasi
-          Bergatinya kurikulum setiap pergantian pemerintah
-          Kurangnya hak guru


Masyarakat
-          Lingkungan masyarakan yang tidak berpendidikan
-          Kuranya perhatian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan
-          Lingkungan masyarakan yang tidak sehat
-          Tidak adanya rasa tanggung jawab masyarakat terhadap pentingnya pendidikan
-          Ekonomi masyarakat yang lemah


Orang tua
-          Mahalnya biaya pendidikan
-          Ragunya orang tua terhadap kesediaan lapangan kerja
-          Kurangnya pemahaman orang tua terhadap pentingnya pendidikan demokrasi
-          Cara mendidik anak yang demokrasi
-          Membatasi kebebasan anak

Kurikulum
-          Berjalanya dua kurikum dalam satu tahun ajaran
-          Buku panduan yang tidak sesuai dengan tujuan kurikulum 
            Dengan melihat tujuan dari pendidikan demokrasi yang ingin mempersiapkan masyarakat yang kritis dan berpikir demokrasi, namun dengan melihat kejadian nyata dilapangan ternyata masih banyak masalah yang terjadi, akibanya berimbas pada pola pikir masyarakat yang tidak belandaskan pada UUD pendidikan,
B.     Masa depan guru dan siswa sebagai obejek pendidikan
Tugas mencerdaskan bangsa apakah ini menjadi pekerjaan guru semata? Jika memang benar seharusnya guru menempati urutan tertinggi sebagai sosok yang sudah berperan membangun peradaban bangsa atau bahkan bisa disebut pahlawan bangsa. Tantangannya adalah apakah guru saat ini sudah siap menghadapi siswa sebagai “Generasi Penerus bangsa” yang lahir dan besar di tengah-tengah pesatnya teknologi informasi? Karena disisi lain sebagian besar guru lahir dan besar dengan didikan antara era 70 – 80 an.
Kondisi pendidikan saat ini tampaknya berbeda dengan dua dekade yang lalu saat guru hanya berkutat pada media buku dan materi yang dijejli oleh gurunya. Tantangan terbesar guru pada era ini adalah menyiapkan siswa ajarnya untuk tantangan masa depan yang lebih berat dan terus berkembang (Saksono:2010). Bagaimana caranya guru mengcreat siswa yang setiap hari tidak pernah lepas dari Gadget. Ya, salah satu caranya adalah menselaraskan kearifan dan keterampilannya dengan teknologi yang lazim digunakan siswa tentunya. Siswa saat ini tidak bisa lepas dari gadgetnya berupa handphone pintar sehingga tidak menutup kemungkinan beragam informasi bisa diakses. Mereka adalah digital native, penduduk asli era digital.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah guru saat ini sudah siap masuk ke dunia siswa yang serba digital? Siap atau tidak inilah kenyataannya. Perlu kompetensi tambahan yang harus diupgrade yaitu kompetensi mengolah informasi dengan pendekatan digital. Contoh yang paling nyata adalah media sosial facebook, media yang sudah lazim di dunia siswa. Guru yang professional akan mengambil kesempatan ini untuk memanfaatkan sebagai media pembelajaran, misal membuat grup diskusi tentang pelajaran tertentu. Masalah yang muncul adalah apakah siswa suka bila guru masuk ke dunianya? Karena tidak semua siswa mau berteman dengan guru di dunia online tersebut.
Siswa saat ini tidak bisa disamakan dengan siswa pada era 80an, untuk membuat siswa nyaman berinteraksi di sosial media maka guru harus menjadi “teman” baik yang berbicara dengan “bahasa” siswa. Artinya guru harus mampu menyelami dunia siswa dan mencari celah yang pas dengan belajar siswa, guru seperti ini yang dibutuhkan saat ini karna pada nantinya guru ini akan menjadi panutan dan model bagi siswanya.
Berbicara mengenai kemampuan akademis guru era 80an sudah tidak perlu diragukan  Namun, untuk konsep pembelajaran yang kreatif dan inovatif harus belajar lagi karna perlu upaya memadukan teori dan kehidupan sehari-hari yang dekat dengan dunia siswa. Pembelajaran kreatif dapat diperkaya dengan mengajak siswa untuk meriset data di Internet. Di sini guru berperan besar dalam membimbing siswa mencari informasi di Wikipedia, Google, dan Blog. Termasuk memilah informasi yang tepat dan menghindari informasi yang menyesatkan.
Belajar memasuki dunia siswa adalah cara yang cukup efektif untuk memcahkan masalah belajar siswa, jujur saja perkembangan informasi teknologi cenderung menjadi kendala bagi guru saat ini, sehingga memaksakan pada siswa untuk belajar dengan cara belajar seperti dulu (konvensional) yang menurutnya lebih jitu menghasilkan seperti para “pembesar” saat ini yang sedang berkiprah di masyarakat. Namun, ingat bahwa zaman dahulu tidaklah sama dengan zaman sekarang, maka janganlah siswa zaman sekarang disamakan pengajarannya dengan zaman dulu, karena mereka adalah anak zaman. Pun dengan memasuki dunia mereka, tentunya dapat melakukan pemantauan dan proses filterisasi akibat dampak kecanggihan informasi, seorang guru dari kartun Jepang Jiraiya Sensei mengatakan,”siswa adalah bentuk estimasi dari seorang guru”. Mari jadi guru yang dapat menginspirasi siswa dengan cara belajar yang tepat bagi siswa.
Analisis kritis masalah guru dan siswa

Pelaku
Masalah

Siswa
-          Siswa egan untuk membaca
-          Siswa lebih sisbuk dengan gadget disbanding memabca buku
-          Tawuran anatara siswa
-          Kurang rasa ingin tahu siswa terhadap materi pembelajaran
-          Minat baca siswa yang sangat rendah


Guru
-          Tidak adanya jaminan kesejahteraan guru
-          Rendahnya gaji guru
-          Guru tidak memahami teknologi
-          Kurang penguasaan metode pengajaran guru
-          Kurangnya sarana dan prasaran pemebelajaran
-          Sulitnya menjadi guru PNS
-          Terikatnya guru PNS dengan politik daerah
-          Buku panduan yang slalu berubah.
Dengan memperhatikan masalah guru dan siswa sebagai objek pendidikan, telah menggabarkan bagaiman lemahnya pendidikan di Indonesia coba tengok Negara jepang salah satu Negara yang penuh dengan teknologi dan dimana guru menjadi orang yang paling di hormati dan yang paling di perhatikan karena mereka beranggaapan bahwa gurulah yang mampu merubah sikap manusia untuk menjadi lebih baik, tidak hanya itu di jepang guru sangat di perhatikan kesejahateraanya. Namun di inidonesia lain keadaanya, malah guru menjadi pekerjaan yang paling bawah dan kurang di perhatikan, bagaimana tidak seperti itu, setiap pergantian pemerintah akan selalu lahir kebijakan baru yang selalu mempersulis guru
Dilihat dari siswa, siswa sekarang adalah mahluk tidak bias lepas dengan teknologi namun kemajuan teknologi bukanya menambah prestasi siswa yang ada diindonesia. Malah sebaliknya dengan kemajuan teknologi siswa banyak melahirkan kejahatan, mulai dari pemerkosaan, pembunuhan sampai pada penggunaan obat-obatan terlarang, siswa jaman sekarang telah menjadi bagian terbesar yang melahirkan banyak kejahatan yang terjadi di inidonesia. Kasus tersebut melahirkan banyak pertanyaan yang begitu memusingkan karena memang sama-sma kita ketahui bahawa tujuan pendidikan nasional adalah memanusiakan manuai, namun tujuan pendidikan nasional ini telah banyak bertolak belakang dengan apa yang dihasilkan oleh para peserta didik di Indonesia

Daftar Rujukan
Paulo Freire. Politik Pendidkan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan (Yogyakarta: ReaD dan Pustaka Pelajar), 2002.
Kartono. 2010. Pendidikan Kritis dan Reformasi Pendidikan Nasional. Khazanah Pendidikan Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol.III
Share:

1 comment:

irwansyah. Powered by Blogger.

JENDELA LANGIT

My photo
Dompu, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
saya seorang pelajar

Search This Blog

Follow by Email

cara dapat uang di blog

PPC Iklan Blogger Indonesia

Blogger news

PPC Iklan Blogger Indonesia

Feature (Side)

Blogroll

About

Blogger templates

Blogger news

Copyright © JENDELA LANGIT | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com