Saturday, 22 April 2017

ANALISIS JENIS TEKS EKSEMPLUM,TEKS CERITA ULANG DAN TEKS ANEKDOT

PPC Iklan Blogger Indonesia

ANALISIS JENIS TEKS CERITA (PUTRI YANG MENJADI ULAR)

1.      Teks Cerita Ulang.
        Teks ini memiliki tujuan social menceritakan kembali tentang peristiwa tentang peristiwa pada masa lalu agar tercipta semcam semacam hiburan atau pemebelajaran dari pengalaman pada masa lalu bagi pembaca atau pendengarnya.teks ini memiliki struktur : judul, pengenalan/orientasi, dan rekaman kejadian .
Struktur Teks
Teks
Judul
Putri Yang Menjadi Ular
Pengenalan/orientasi
Alkisah. Ada seorang raja dan permainsuri yang memiliki seorang putri pelosok yang Canti. Berita tantang kecantika putrid raja itu tersebar ke pelosok  negeri hingga sampai di telinga seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan tetangga.
Rekaman Kejadian
Sang putrid duduk diatas batu di tepi kolam sambil menjuntaikan kakinya kedalam air. Sang putrid membayangkan betapa bahagianya saat pernikahanya nanti. Sang putrid asyik menghayal dan mnikmati kesejukan air kolam itu, tiba-tiba angin bertiup kencang, tanpa diduga sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenai ujung hidung sang putri.
Aduuuh, hidungku!!!’’ jeritan sang putrid sambil memegang hidung.

Sambil menangis, sang putrid mengadahkan tanganya ke atas, lalu berdoa ya tuhan hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuaku, doa sang putri dengan mata berkaca-kaca. Namun tiba-tiba petir menyambar sesaat sang putri mengucapkan doanya, doa sang putri didengar oleh tuhan.

Beberapa saat kemudian, tubuh sang putrid mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin meramba ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peritiwa itu.ketika sisik itu menyampai dada, sang putrid segera memerintahkan seorang dayang-dayang untuk member tahu ayah dan ibunya didalam istan. Sang raja dan permainsuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putrid. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung diatas batu yang biasa dipakai sang putrid untuk duduk.

Ahirnya peristiwa penjelmaan sang putrid menjadi sekor ular adalah hukuman dari tuhan atas pemintaan sang putrid itu sendiri.

Pada teks cerita ulang terlihat rentetan peristiwa yang di alami tokoh sang putri ditata dengan menggunakan konjungsi menunjukan peristiwa. Mulai dari penggunaan konjungsi ‘’Alkisah’’Lalu’’Ahirnya’’. Konjungsi pengurutan peristiwa menjadi benag pengikat yang menyatukan paragraf pembentuk teks tersebut. Selain menggunakan konjungsi, teks di ikat oleh piranti penyatuan berupa pengulangan dalam bentuk anaforis ‘’nya’’ yang merujuk pada sang putrid, patut ditambahkan, bahwa pada teks penceritaan ulang atau rekon, gagasan/pikiran tentang ‘’masalah’’ dimuat dalam satu struktur teks , yaitu struktur rekaman kejadian.
2.      Anekdot
Sebagai salah satu jenis teks yang termasuk dalam genre  cerita, teks anekdot memiliki tujuan social yang sama dengan teks cerita ulang. Hanya saja, peristiwa yang ditampilkan membuat partisispan yang mengalaminya nerasa jengkel atau konyol (periksa Wiratno, 2014). Teks ini memiliki struktur berpikir : judul pengenalan/orientasi.krisis/masalah, reaksi

Struktur
Teks
Judul
Putri Yang Menjadi Ular
Penegnalan/orientasi
Alkisah. Ada seorang raja dan permainsuri yang memiliki seorang putri pelosok yang Canti. Berita tantang kecantika putrid raja itu tersebar ke pelosok  negeri hingga sampai di telinga seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan tetangga.
Masalah
tiba-tiba angin bertiup kencang, tanpa diduga sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenai ujung hidung sang putri.
Aduuuh, hidungku!!!’’ jeritan sang putrid sambil memegang hidung.

Sambil menangis, sang putrid mengadahkan tanganya ke atas, lalu berdoa ya tuhan hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuaku, doa sang putri dengan mata berkaca-kaca. Namun tiba-tiba petir menyambar sesaat sang putri mengucapkan doanya, doa sang putri didengar oleh tuhan.

Beberapa saat kemudian, tubuh sang putrid mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin meramba ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peritiwa itu.ketika sisik itu menyampai dada, sang putrid segera memerintahkan seorang dayang-dayang untuk member tahu ayah dan ibunya didalam istana. Sang raja dan permainsuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putrid. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung diatas batu yang biasa dipakai sang putrid untuk duduk.
Reaksi
Sang putri mengadahkan kedua tangannya ke atas. Lalu berdoa . ‘’ya Tuhan! Humlah hamba muini yang telah membuat malu dan kecewa orang tua ku. 

Teks anekdot diatas memperlihatkan bahwa penggunaan konjungsi dan piranti pengikat teks agar seluruh struktur teks menjadi padu sama dengan teks penceritaan ulang/rekon. Masalah yang muncul serta pemecahan tercantum dalam struktur yang sama, yaitu pada struktur masalah/krisis, hanya saja bedanya, apabila pasda teks penceritaan ulang berakhir dengan kejadian tanpa ditampakan reaksi dari pelaku terhadapperistiwa yang dialami, maka pada teks anekdot reaksi pelaku atas peristiwa yang dialaminya ditampakan secara eksplisit, itu sebabnya pada teks tipe ini memiliki strukteks tambahan yang berupa struktur reaksi.





3.      Teks Eksemplum
Teks ini memiliki tujuan sosial menilai perilaku atau karakter dalam cerita, itu sebabnya  teks ini memiliki struktur : judul ,pengenalan/orientasi, kejadian/insiden, dan interpertasi. Beberapa struktur teks tersebut ada beberapa yang mebedakan jenis teks ini dengan jenis teks anekdo atau cerita ulang.
Struktur
Teks
Judul
Putri Yang Menjadi Ular
Pengenalan/orientasi
Alkisah. Ada seorang raja dan permainsuri yang memiliki seorang putri pelosok yang Canti. Berita tantang kecantika putrid raja itu tersebar ke pelosok  negeri hingga sampai di telinga seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan tetangga.
Kejadian/Insiden
tiba-tiba angin bertiup kencang, tanpa diduga sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenai ujung hidung sang putri.
Aduuuh, hidungku!!!’’ jeritan sang putrid sambil memegang hidung.

Sambil menangis, sang putrid mengadahkan tanganya ke atas, lalu berdoa ya tuhan hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuaku, doa sang putri dengan mata berkaca-kaca. Namun tiba-tiba petir menyambar sesaat sang putri mengucapkan doanya, doa sang putri didengar oleh tuhan.

Beberapa saat kemudian, tubuh sang putrid mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin meramba ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peritiwa itu.ketika sisik itu menyampai dada, sang putrid segera memerintahkan seorang dayang-dayang untuk member tahu ayah dan ibunya didalam istana. Sang raja dan permainsuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putrid. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung diatas batu yang biasa dipakai sang putrid untuk duduk.
interpertasi
Peristiwa penjelmaan sang putri menjadi seokor ular adalah hukuman atas permintaannya, ia putus asa karena telah membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya.

Seperti halnya kedua teks genre cerita tersebut yang dipaparkan diatas, teks eksemplum pun memamnfaatkan konjungsi dan piranti pengikat struktur teks lainya agar keseluruhan struktur teks menjadi padu. Masalah yang muncul serta memecahnya tercantum dalam struktur yang sama yaitu pada struktur: masala/ krisis/insiden. Hanya saja bedanya, apabila pada teks penceritaan ulang berakhir dengan kejadian tampa ditampakan reaksi dari pelaku terhadap peristiwa yang dialaminya, dan pada teks anekdot terdapat reaksi dari pelaku terhadap peritiwa yang dialaminya tokohnya, maka pada teks eksemplum bukan reaksi individu pelaku utama terhadap peristiwa tetapi reaksi yang berupa pesan moral dari kejadia yang dialami tokoh utama.















Jenis-Jenis Konjungsi dalam cerita ‘’PUTRI YANG MENJDI ULAR’’
1.      Konjungsi Intrakalimat
Konjungsi intra kalimat atau antar klausa adalah kata yang menghubungkan klausa induk dan klausa anak. Umumnya, kata penghubung antar klausa ini diletakkan di tengah-tengah kalimat. Di dalam intra kalimat (antar klausa), terdapat dua jenis kata penghubung atau konjugsi, yakni konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif, Berikut penjelasannya :
A.    Konjungsi koordinatif
adalah kata penghubung yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang mempunyai status sederajat. Contoh konjungsi koordinatif yakni : dan, tetapi, atau, sedangkan, melainkan, padahal, lalu, kemudian.



Dan,lalu,tetapi,kemudian,untuk
B.     Konjungsi subordinatif
Konjugsi Subordinatif adalah kata penghubung yang menghubungkan dua klausa atau lebih dengan status yang tidak sama derajatnya, diantaranya : ketika, sejak, biar, seperti, setelah, jika, andai, kalau, supaya, bagai, ibarat, sehingga, karena.


1.      Hubunagn waktu

2.      Hubungan Syarat

3.      Hubunagan Pengandaian

4.      Hubungan Tujuan

5.      Hubungan Konsensif

6.      Hubungan Pemiripan

7.      Hubungan Penyebab

8.      Hubungan Penjelas

9.      Hubungan Cara
Setelah,jika,sehingga.ketika








Sebelum ,sehingga,ketika,setelah

Jika

-

Biar

-

Seperti,Tiba-tiba,terisak-isak,berkaca-kaca

Karena

Bahwa

Dengan




2.      KONJUNGSI ANTAR KALIMAT

Konjungsi antar kalimat merupakan kata penghubung yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Konjungsi antar kalimat ini digunakan untuk menyatakan makna yang berbeda-beda. Contoh konjungsi antar kalimat diantaranya : oleh karena itu, namun, sebelum itu, akan tetapi, dengan demikian, kecuali itu, selain itu, sesudah itu, sebaliknya.

a.    Biarpun demikian, biarpun begitu, sekalipun demikian, sekalipun begitu, walaupun demikian, walaupun begitu, meskipun demikian, meskipun begitu
Makna : untuk menyatakan kesediaan melakukan sesuatu yang berbeda atau bertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya.

b.    Kemudian, setelah itu, sesudah itu, selanjutnya    
Makna : Menyatakan kelanjutan dari suatu peristiwa atau keadaan yang diterangkan pada kalimat sebelumnya.

c.    Tambahan pula, selain itu, lagi pula
Makna : Menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya.

d.    Sebaliknya  
Makna : Mengacu pada kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya.

e.    Sesungguhnya, bahwasanya
Makna : Menyatakan keadaan yang sebenarnya.

f.      Malah, malahan, bahkan
Makna : Menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya

g.     Akan tetapi, tetapi, namun, kecuali itu
Makna : Menyatakan keadaan pertentangan dengan keadaan sebelumnya



h.    Dengan demikian   
Makna : Menyatakan konsekuensi

i.      Oleh karena itu, oleh sebab itu
Makna : Menyatakan akibat

j.      Sebelum itu
Makna : Menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya


Biarpun demikian








Setelah itu, beberapa saat kemudian






Sementara itu




-



-



-



Tetapi







-


Oleh sebab itu

Sebelum Itu





Share:

0 comments:

Post a Comment

irwansyah. Powered by Blogger.

JENDELA LANGIT

My photo
Dompu, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
saya seorang pelajar

Search This Blog

Follow by Email

cara dapat uang di blog

PPC Iklan Blogger Indonesia

Blogger news

PPC Iklan Blogger Indonesia

Feature (Side)

Blogroll

About

Blogger templates

Blogger news

Copyright © JENDELA LANGIT | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com